Kolaborasi, Kunci Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

0
48

Bisnis Metro, JAKARTA — Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)merekomendasikan pembentukan Komite Nasional Percepatan Penuruan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir kepada Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek pada acara Peluncuran Hasil Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia, pada Rabu, 28 Maret 2018. Rekomendasi tersebut dihasilkan setelah menelusuri lebih dari 7.000 literatur dan hasil penelitian terkait kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, dengan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

 

Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia merupakan program yang dilaksanakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) selama Juni 2016 hingga Maret 2018. Program ini merupakan tindak lanjut dari kajian bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan the US National Academy of Science (NAS), Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia (2013), yang menemukan bahwa Indonesia kekurangan data dan informasi yang valid tentang kematian ibu dan bayi baru lahir selama beberapa dekade. Evidence Summit dilakukan untuk mendukung pemerintah Indonesia serta pemangku kepentingan pendidikan dan pelayanan kesehatan dalam mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi baru lahir.

 

Proses telaah sistematis (systematic review) yang dilakukan Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesiamenemukan sejumlah penyebab utama angka kematian ibu dan bayi tak kunjung berkurang secara signifikan. Di antaranya, belum meratanya akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas; keterlambatan mendapat pertolongan pada keadaan darurat; belum memadainya data dan pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi; sistem informasi kesehatan yang belum terpadu; hingga permasalahan regulasi, contohnya Undang-undang Perkawinan No. 1/1974 yang mengatur usia pernikahan minimal 16 tahun untuk perempuan. Oleh sebab itu, upaya mengurangi kematian ibu dan bayi perlu melibatkan para pemangku kepentingan baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

 

Rekomendasi yang disampaikan AIPI mencerminkan perlunya kerja sama para pemangku kepentingan dalam mengatasi masalah kematian ibu dan bayi baru lahir. “Permasalahan kematian ibu dan bayi memiliki penyebab yang kompleks, sehingga upaya penurunannya memerlukan kolaborasi dari berbagai sektor seperti profesional di bidang kesehatan, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Ketua AIPI, Prof. Sangkot Marzuki. Selain mendorong pembentukan komite tersebut, AIPI juga memberikan masukan terkait tiga topik utama dalam menyelamatkan ibu dan bayi, yaitu tempat persalinan, penyedia jasa kesehatan, dan partisipasi masyarakat.

Pelaksana Tugas Direktur USAID Ryan Washburn mengatakan: “Memperluas kemitraan ilmiah antara peneliti dan lembaga ilmiah Indonesia dan AS merupakan komponen penting

dari Kemitraan Strategis AS-Indonesia yang lebih luas. Kami sangat bangga bisa mendukung Evidence Summit yang menyatukan prioritas untuk mengakhiri kematian ibu dan bayi baru lahir karena penyebab yang bisa dicegah serta meningkatkan ketersediaan dan pemanfaatan data ilmiah.

 

Komite Nasional Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir akan sekaligus berfungsi sebagai forum komunikasi antara peneliti, praktisi dan penyusun kebijakan yang dapat mengharmonisasi prioritas penelitian dan agenda kebijakan. AIPI berkomitmen untuk terus berpartisipasi dengan terus menjaring, mengevaluasi, dan menyebarluaskan data dan hasil penelitian di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memperkuat peran sains dan ilmu pengetahuan dalam pengambilan kebijakan dan penentuan langkah-langkah prioritas untuk mengurangi kasus kematian ibu dan bayi yang sebenarnya dapat dicegah. AIPI juga akan terus berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk menghasilkan konsensus kebijakan dan rencana aksi. Hal ini penting, mengingat banyak upaya telah dilakukan namun angka kematian ibu dan bayi baru lahir tak menurun secara signifikan. Hasil evaluasi MDGs pada 2015 menunjukkan bahwa capaian MDGs untuk kematian ibu pada 2015 di Indonesia cukup jauh dari target, yaitu 305/100.000 dari 102/100.000. Di sisi lain, penurunan angka kematian bayi baru lahir juga stagnan dalam sembilan tahun terakhir, yaitu 20/1.000 pada 2003 dan hanya menurun menjadi 19/1.000 pada 2012. Untuk informasi lebih lanjut tentang Evidence Summituntuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia, kunjungi www.esaipi.or.id. (Red/Edr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here